Ternyata Negara Arab Impor Pasir dari Australia, Ini Alasannya

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
02 January 2026 14:42
Ilustrasi Pasir Laut. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi pasir. (Dokumentasi Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dikenal sebagai negara dengan hamparan gurun pasir yang nyaris tak berujung. Namun di balik megahnya gurun tersebut, kedua negara Teluk ini justru harus mengimpor pasir dari negara lain, termasuk Australia, China, dan Belgia, demi memenuhi kebutuhan konstruksi proyek raksasa mereka.



Ini terlihat kontradiktif, namun memiliki alasan teknis yang sangat krusial. Tidak semua pasir cocok untuk bahan bangunan, khususnya untuk produksi beton berkekuatan tinggi yang digunakan pada proyek-proyek berskala besar seperti NEOM, The Line, hingga gedung tertinggi dunia Burj Khalifa di Dubai.

Pasir di gurun terbentuk akibat erosi angin selama ribuan tahun. Proses ini menghasilkan butiran pasir yang terlalu halus, bulat, dan licin, sehingga tidak mampu saling mengikat dengan baik ketika dicampur dengan semen dan air untuk membuat beton.

Padahal, beton membutuhkan pasir dengan bentuk kasar dan bersudut agar dapat menciptakan ikatan struktural yang kuat. Jenis pasir seperti itu umumnya berasal dari dasar sungai, danau, atau laut, bukan dari gurun. Menurut jurnalis investigasi Vince Beiser, membuat beton dari pasir gurun ibarat membangun dengan tumpukan kelereng, bukan tumpukan batu bata kecil.

Melansir Times of India, data dari United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut dunia mengonsumsi sekitar 50 miliar ton pasir per tahun yang menjadikannya material padat yang paling banyak diekstraksi di planet ini. Ironisnya, hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut yang layak untuk konstruksi.

Industri beton sendiri memiliki jejak karbon besar. Produksi semen, salah satu komponen utama beton, diperkirakan menyumbang hingga 8% emisi CO₂ global setiap tahunnya.

Australia muncul sebagai salah satu eksportir utama pasir konstruksi dan silika berkualitas tinggi. Berdasarkan data OEC World, pada 2023 Australia mengekspor pasir senilai US$ 273 juta, menjadikannya eksportir pasir terbesar kedua dunia.

Arab Saudi tercatat mengimpor sekitar US$ 140 ribu pasir konstruksi dari Australia pada tahun tersebut. Kebutuhan ini terus meningkat seiring ambisi pembangunan Saudi lewat program Vision 2030, yang mencakup proyek futuristik seperti NEOM, The Red Sea Project, dan Qiddiya.

Sementara itu, UEA menghadapi tantangan serupa. Untuk membangun Burj Khalifa setinggi 828 meter, proyek tersebut menghabiskan 39.000 ton baja, 103.000 meter persegi kaca dan 330 juta liter beton.

Tak satupun beton itu menggunakan pasir gurun. Pasir diimpor, termasuk dari Australia, karena hanya pasir dengan karakteristik tertentu yang dapat memenuhi standar teknik bangunan modern.

Selain gedung pencakar langit, pasir juga digunakan UEA untuk pembuatan pulau buatan seperti Palm Jumeirah. Proyek tersebut saja menghabiskan sekitar 186,5 juta meter kubik pasir laut, hingga menguras cadangan pasir lokal.

UNEP telah memperingatkan dunia mengenai krisis pasir global, akibat eksploitasi berlebihan yang merusak ekosistem sungai, pesisir, dan keanekaragaman hayati.

Sebagai solusi, berbagai negara mulai mengembangkan pasir buatan (manufactured sand) dari batuan pecah serta mendaur ulang limbah konstruksi. Arab Saudi pun mulai mengeksplorasi inovasi ini, meski dalam jangka pendek ketergantungan pada impor pasir masih belum terhindarkan.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2026: Indonesia Kalah 2-3 Vs Arab Saudi


Most Popular
Features