CNBC Insight

Ini Mesin Penggerak Ekonomi Tertua di Dunia, Terbukti Buat Negara Kaya

MFakhriansyah & haa,  CNBC Indonesia
28 September 2026 15:10
Ilustrasi perbudakan. (www.globalslaveryindex.org)
Foto: Ilustrasi perbudakan. (www.globalslaveryindex.org)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak banyak orang tahu, salah satu mesin penggerak ekonomi tertua dan paling bertahan lama dalam sejarah manusia adalah perbudakan. Ini dibuktikan dengan kesuksesan sistem perbudakan yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi salah satu kekaisaran terbesar dan tertua dalam sejarah, yakni Kekaisaran Romawi.

Sejarawan Emma Southon dalam tulisannya di National Geographic mengungkap, perbudakan bukan sekadar bagian kecil dari perekonomian kekaisaran yang berdiri sejak 27 SM itu. Tenaga orang-orang yang diperbudak justru menopang hampir seluruh kehidupan masyarakat. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, pertanian, pertambangan, pembangunan hingga birokrasi kekaisaran.

"Itu bukan sekadar bagian dari ekonomi Romawi; itu adalah ekonomi Romawi," tulis Southon.

Praktik tersebut berkembang seiring ekspansi Roma. Setiap penaklukan wilayah baru berarti bertambahnya manusia yang dapat dijadikan budak. Penduduk dari kota-kota yang ditaklukkan dikumpulkan dan dijual kepada pedagang yang mengikuti pasukan Romawi.

Dalam penaklukan kota Gaul, misalnya, Julius Caesar bahkan mengklaim telah memperbudak sekitar satu juta orang. Pada masa tertentu, diperkirakan sekitar 30% penduduk Kekaisaran Romawi merupakan orang yang diperbudak.

Tenaga mereka kemudian digunakan untuk membangun dan mempertahankan kemegahan Roma. Jutaan batu bata dan ubin diproduksi secara manual. Marmer ditambang di berbagai wilayah dan diangkut melintasi Laut Mediterania untuk membangun kuil, forum, amfiteater hingga bangunan elite.

Pekerjaan yang lebih tidak terlihat juga dilakukan oleh budak. Sekitar 700 orang yang diperbudak bertugas merawat saluran air dan air mancur Roma. Ada pula yang bekerja sebagai petugas kuil, penyalin dokumen, pegawai birokrasi, pekerja tambang hingga pelayan rumah tangga.

Bahkan kehidupan rumah tangga tidak terlepas dari sistem tersebut. Rumah-rumah elite Romawi dapat memiliki ratusan orang yang diperbudak untuk mengurus berbagai kebutuhan pemiliknya. Di luar kalangan elite, keluarga biasa pun dapat memiliki satu atau dua orang yang diperbudak untuk membantu pekerjaan sehari-hari.

Namun, kehidupan mereka dibayangi kekerasan. Tabib Galen mencatat pernah melihat orang-orang yang diperbudak diserang dengan pena dan pedang hingga mengalami patah tulang dan kerusakan mata. Pada 319 Masehi, Kaisar Konstantinus bahkan mengeluarkan aturan yang melarang pemilik membunuh budaknya.

Southon menggambarkan, menjadi budak berarti kehilangan identitas sekaligus menghadapi kemungkinan kekerasan dari pemiliknya. Pada akhirnya, hanya sebagian kecil yang berhasil memperoleh kebebasan. Bahkan, di pemakaman kekaisaran Kartago yang berisi sekitar 1.300 orang, dua pertiganya meninggal ketika masih berstatus budak.

Di Indonesia, sistem perbudakan pernah digunakan di beberapa masa. Namun, sama seperti di belahan dunia lain, perbudakan sudah dilarang. 

(haa)
Next Article Tragis Nasib Anak Afrika Dipajang Jadi Tontonan di AS-Tewas Memilukan


Most Popular
Features