CNBC Insight

Rupiah Palsu Beredar di Indonesia, Pelaku Cetak di Taiwan

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
22 September 2026 16:15
Foto: ilustrasi uang palsu (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: ilustrasi uang palsu (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah palsu ternyata pernah digunakan bukan sekadar untuk mencari keuntungan, tetapi juga menjadi bagian dari konflik politik di Indonesia. Pada 1959, uang palsu yang beredar di sejumlah wilayah Indonesia disebut dicetak di Taiwan dan diselundupkan ke dalam negeri untuk mendukung gerakan pemberontakan PRRI-Permesta.

Kasus tersebut terungkap setelah pemerintah mendapat laporan mengenai membanjirnya uang yang beredar di sejumlah daerah. Kondisi itu sempat membuat perekonomian terganggu dan memicu tudingan terhadap bank sentral. Namun, penyelidikan pemerintah justru menemukan fakta berbeda: uang yang beredar tersebut ternyata bukan rupiah asli.

Lebih mengejutkan lagi, sumber uang palsu itu berada ribuan kilometer dari Indonesia. Jaksa Agung Suprapto pada Januari 1959 mengungkap bahwa rupiah palsu tersebut dicetak di Taiwan menggunakan mesin modern.

"Uang palsu RI itu dicetak di Taiwan," ungkap Jaksa Agung Suprapto, dikutip dari koran Umum (23 Januari 1959).

Uang tersebut dicetak di Taiwan dengan mesin modern. Setelahnya, diselundupkan ke Indonesia oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Caranya dengan mengangkut uang menggunakan kapal Kuomintang dari Taiwan ke Singapura.

Saat di Singapura, uang dibawa oleh agen dan kaki tangan pemberontak ke sejumlah daerah di Indonesia. Terungkap pula, pencetakan uang palsu tersebut ternyata bukan semata-mata memiliki motif ekonomi. Ada kepentingan politik di baliknya. Rupiah palsu itu bakal digunakan oleh para pemberontak PRRI-Permesta.

Saat itu, Indonesia memang sedang dilanda pemberontakan PRRI-Permesta. Sejarawan Audrey Kahin dalam Dari pemberontakan ke integrasi Sumatra Barat dan politik Indonesia, 1926-1998 (2005) menyebut, gerakan tersebut muncul karena kelompok di daerah, terutama Sumatera Barat dan Sulawesi, menentang kebijakan pemerintah pusat yang terlalu Jakartasentris.

Atas dasar inilah, untuk mendukung perjuangan, uang palsu mulai beredar di sejumlah titik, khususnya daerah-daerah yang menjadi basis pemberontakan. Sumatra dan Sulawesi menjadi wilayah yang terdampak peredaran uang tersebut. Dalam peredarannya, uang palsu tersebut hadir dalam sejumlah pecahan, yakni Rp10, Rp50, Rp100, Rp1.000, dan Rp5.000.

TNI AD dalam riset Sejarah TNI-AD, 1945-1973: Peranan TNI-AD dalam mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia (1979) mengungkap, Taiwan menjadi tempat pencetakan karena wilayah tersebut merupakan salah satu negara yang dihubungi tokoh-tokoh pemberontak dalam rangka mendapatkan bantuan.

Pemerintah Taiwan yang didukung oleh Amerika Serikat akhirnya memberikan bantuan. Dari sinilah, negara tersebut menjadi jalur utama untuk menyalurkan peralatan perang kepada para pemberontak di Sumatra dan Sulawesi.

Pada masa itu, pemerintah juga memberikan perhatian serius terhadap penggunaan uang yang berkaitan dengan pemberontakan. Bahkan, pegawai negeri sipil (PNS) yang ketahuan menggunakan uang tersebut dapat dikenai sanksi hingga diberhentikan.

Peredaran uang palsu tersebut kemudian ikut berakhir seiring dengan berakhirnya pemberontakan PRRI-Permesta. Rupiah yang diterbitkan pemerintah Indonesia pun tetap menjadi alat pembayaran yang sah.

(mfa)
Next Article Saat 3 WNI Jadi Korban Bom Atom di Jepang: Kulit Terbakar-Nyaris Tewas


Most Popular
Features