CNBC Insight

Warga Bakar Arang, 125 Ha Hutan Cemara Gunung Bromo Hangus Terbakar

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
10 August 2026 17:35
Seseorang mengamati kobaran api saat kebakaran hutan di lereng bukit di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, MInggu (9/8/2026). (REUTERS/Dipta Wahyu)
Foto: REUTERS/Dipta Wahyu
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu melalui relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran hutan dan lahan yang kembali melanda kawasan Gunung Bromo sejak 3 Agustus 2026 ternyata bukan persoalan baru. Puluhan tahun lalu, kawasan yang berada di Pegunungan Tengger ini juga pernah dilanda kebakaran besar. Salah satunya terjadi pada 1953 dan diduga dipicu aktivitas warga yang membakar arang.

Akibatnya, kebakaran hutan berkobar selama dua hari di lereng Gunung Bromo, sekitar Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Laporan Java-bode (31 Juli 1953) menyebut kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 125 hektare hutan cemara dan sebidang lahan penanaman baru.

"Selama dua hari, kebakaran hutan berkobar di lereng Ringgit dan Bromo di sekitar Sapikerep di Kecamatan Sukapura. Secara total, 125 hektare hutan cemara dan sebidang lahan penanaman baru hangus terbakar," demikian laporan tersebut.

Hal serupa diberitakan Het nieuwsblad voor Sumatra (3 Agustus 1953), yang memberitakan kebakaran ratusan hektare lahan. Menurut koran tersebut, api diduga disebabkan oleh aktivitas pembakaran arang oleh warga setempat.

"Penyebab kebakaran kemungkinan besar disebabkan oleh pembakaran arang oleh penduduk," tulis Het nieuwsblad voor Sumatra.

Sebenarnya, hitung mundur 20 tahun lalu, kebakaran yang disebabkan oleh aktivitas penduduk juga pernah terjadi. Pada 16 Oktober 1933, api juga muncul di kawasan Laut Pasir atau Zandzee di Pegunungan Tengger. Kobaran api kemudian menyebar cepat ke arah Lumajang dan Malang.

Laporan De Indische Courant (17 Oktober 1933) mencatat kebakaran tersebut terjadi di lereng Zandzee dan diduga disebabkan oleh aktivitas warga.

"Pada Senin sore, kebakaran terjadi di lereng Zandzee, yang menyebar dari Lumajang ke Malang," tulis De Indische Courant.

Kebakaran tersebut bahkan berdampak pada Cagar Alam Bromo. Meski demikian, kawasan tersebut berhasil diselamatkan dari kerusakan lebih lanjut untuk sementara waktu. Upaya pemadaman kemudian dilakukan secara bersama-sama. Aparat dan penduduk setempat turun tangan untuk menghentikan kobaran api.

"Dinas Dalam Negeri, Dinas Kehutanan, dan Polisi Lapangan Probolinggo, dengan bantuan warga setempat, sibuk melakukan upaya pemadaman kebakaran," tulis surat kabar Bredasche Courant (18 Oktober 1933).

Kebakaran baru mereda setelah berlangsung selama 3-4 hari. Menurut laporan Het Volk (23 Oktober 1933), hal tersebut terjadi setelah penyebaran api berhasil dicegah. Para petugas menggali parit untuk menghentikan pergerakan api.

Meski api sudah padam, jejaknya tak bisa hilang dalam waktu cepat. Butuh waktu lama bagi Bromo untuk kembali hijau seperti sedia kala.

Apalagi, Bromo sejak lama telah dikenal sebagai tujuan wisata. Pada awal abad ke-20, pelancong asing sudah datang untuk menikmati keindahan kawasan ini, termasuk menyaksikan matahari terbit dari Bromo.

Salah satu orang yang menyaksikan keindahan ini adalah turis asal Amerika Serikat, Thomas H. Reid pada 1907.

"Saat kami berdiri di dinding kawah yang sangat besar, menghadap ke lautan pasir, kami menyaksikan pancaran cahaya keemasan yang perlahan memancar dari balik puncak gunung di sebelah timur. Kami merasa perjalanan kami tidak sia-sia," tulis Reid dalam Across the Equator, A Holiday Trip in Java (1908).

Atas dasar inilah, kebakaran yang melanda kawasan Bromo sejak dulu bukan hanya soal hutan yang terbakar, tetapi juga menyangkut kelestarian lanskap alam yang menjadi daya tarik wisata hingga hari ini.

(mfa/mfa)

Most Popular
Features