CNBC Insight

Percobaan Kudeta di Arab, Masjidil Haram Lumpuh-Jemaah Disandera

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
26 May 2026 12:05
Mekkah jaman dahulu, (Mohammed Sadiq Bey via tangkapan layar Detikcom)
Foto: Makkah (Mohammed Sadiq Bey via tangkapan layar Detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 1979 menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah Arab Saudi. Di tengah datangnya ribuan umat Islam ke Tanah Suci, sekelompok orang bersenjata menduduki Masjidil Haram di Makkah dan menyandera para jemaah yang berada di dalam kompleks masjid.

Peristiwa itu pecah pada 20 November 1979, bertepatan dengan 1 Muharram 1400 Hijriah. Seusai salat Subuh, ratusan orang bersenjata tiba-tiba mengambil alih area Masjidil Haram. Saat itu masih banyak jemaah haji yang belum pulang dan berada di lokasi sehingga mereka ikut terjebak dalam aksi penyanderaan tersebut.

Kelompok tersebut dipimpin oleh eks-tentara Arab Saudi, yakni Juhayman al-Otaybi. Menurut M. E. McMillan dalam From the First World War to the Arab Spring (2016), Juhayman bersama para pengikutnya berupaya menggulingkan Kerajaan Arab Saudi. Mereka menuduh keluarga kerajaan telah menyimpang dari ajaran Islam dan terlalu dekat dengan pengaruh Barat. Atas dasar itu, kelompok tersebut mengklaim ingin membangun tatanan pemerintahan yang dianggap lebih sesuai dengan ajaran agama.

Mereka juga menilai pemerintah Saudi tidak menjalankan syariat Islam secara sungguh-sungguh di wilayah yang menjadi tempat lahirnya agama Islam. Keyakinan inilah yang kemudian mendorong mereka melakukan pemberontakan bersenjata di lokasi paling suci bagi umat Muslim.

Selain itu dalam aksinya, mereka mengumumkan bahwa salah seorang pengikutnya, Mohammed Abdullah al-Qahtani, adalah Imam Mahdi. Dalam Islam, Imam Mahdi adalah sosok yang diyakini akan muncul pada akhir zaman untuk menegakkan keadilan.

Bagi pemerintah Saudi, situasi itu sangat rumit. Masjidil Haram memiliki kedudukan suci sehingga operasi militer tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Di sisi lain, banyak jemaah yang masih berada di dalam area masjid dan menjadi sandera.

Mengutip BBC International, setelah memperoleh fatwa dari para ulama, pemerintah akhirnya melancarkan operasi untuk merebut kembali Masjidil Haram. Pasukan Saudi mengepung kompleks tersebut selama hampir dua pekan. Pertempuran berlangsung sengit, terutama di jaringan lorong bawah tanah yang digunakan para pemberontak sebagai tempat bertahan.

Untuk menghindari kerusakan lebih besar di area suci masjid, pasukan Saudi menggunakan berbagai taktik. Salah satunya dengan membanjiri lorong-lorong bawah tanah tempat persembunyian para militan menggunakan air yang dialiri listrik guna memaksa mereka keluar.

Dalam operasi tersebut, Arab Saudi juga memperoleh bantuan teknis dari unit antiteror Prancis, GIGN. Setelah hampir dua minggu pengepungan, perlawanan kelompok Juhayman akhirnya berhasil dipatahkan.

Mohammed Abdullah al-Qahtani, yang diklaim sebagai Imam Mahdi oleh kelompok itu, tewas dalam pertempuran. Ratusan pengikut Juhayman ikut menjadi korban, bersama sejumlah jemaah yang terjebak dalam konflik tersebut. Sementara itu, Juhayman berhasil ditangkap hidup-hidup sebelum akhirnya dieksekusi oleh pemerintah Saudi pada 1980.

Tragedi pendudukan Masjidil Haram meninggalkan dampak besar bagi Arab Saudi. Setelah kejadian tersebut, pemerintah memperketat kebijakan keagamaan dan memperkuat peran ulama dalam kehidupan sosial maupun politik negara. Banyak pengamat menilai insiden ini sebagai salah satu titik balik penting dalam sejarah modern Timur Tengah.

(mfa/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Ibadah Haji Dibatalkan, Jemaah Diminta Pulang dari Makkah


Most Popular
Features