Perempuan RI Didorong Naik Kelas, dari Pasar Lokal ke Pemain Global

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
25 April 2026 20:25
Suasana acara Top Women Fest 2026. Mengusung tema "A Celebration of Powerful Women: Strong Women, Strong Economy" di Area Relief Sarinah, Jakarta, Sabtu (25/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Suasana acara Top Women Fest 2026 yang mengusung tema "A Celebration of Powerful Women: Strong Women, Strong Economy" di Area Relief Sarinah, Jakarta, Sabtu (25/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peran perempuan dalam perdagangan global dinilai patut untuk ditingkatkan. Sejumlah pemimpin perempuan di Indonesia menilai, kunci utamanya bukan sekadar membuka akses, tapi memastikan perempuan benar-benar siap bersaing dari level paling dasar.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menekankan, langkah awal dimulai dari pasar domestik. Perempuan pelaku usaha perlu dibekali kemampuan dasar seperti pencatatan keuangan, pemahaman kualitas produk, hingga standar keamanan pangan sebelum melangkah ke pasar internasional.

Menurut mantan menteri perdagangan itu, banyak pelaku usaha perempuan masih terkendala hal sederhana seperti pembukuan hingga pemenuhan standar produk. Padahal, kata ia, aspek seperti kualitas, packaging, dan branding menjadi penentu utama agar produk bisa diterima pasar global.

"Tidak cukup hanya punya produk. Harus jelas kualitasnya, kemasannya, sampai bagaimana membangun merek," ujar Mari dalam talkshow Top Woman Fest 2026 di Sarinah, Jakarta, Sabtu (25/4/2026).

Pemerintah disebut telah menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari pelatihan ekspor hingga dukungan pembiayaan melalui lembaga seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Mari bilang, platform digital dan e-commerce juga membuka peluang baru bagi UMKM perempuan untuk menembus pasar global tanpa harus ekspansi fisik terlebih dahulu.

Di sisi lain, tantangan tidak hanya datang dari aspek bisnis, tetapi juga lingkungan kerja. Director of Communication, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus menyoroti pentingnya dukungan sistem, baik di perusahaan maupun dalam keluarga. Itu, kata ia, agar perempuan bisa terus produktif dan berkembang sebagai pemimpin.

Ia mencontohkan kebijakan seperti work from anywhere dan fasilitas daycare yang dinilai mampu membantu perempuan tetap aktif bekerja tanpa meninggalkan peran keluarga. Selain itu, isu kepercayaan diri juga masih menjadi hambatan besar. Banyak perempuan mengalami impostor syndrome, yakni perasaan tidak pantas berada di posisi tertentu meski memiliki kemampuan.

"Kadang perempuan merasa tidak cukup layak, padahal saat sudah di meja yang sama, justru mereka bisa lebih unggul," ujar Nurdiana.

Dukungan mentor dan sponsor dinilai penting untuk mengatasi hal tersebut. Menurut ia, sponsor tidak harus perempuan, karena kolaborasi lintas gender justru bisa membantu mematahkan stereotip di dunia kerja.

Sementara itu, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menilai, tekanan dan kompetisi dalam karier adalah hal yang tidak bisa dihindari, termasuk bagi perempuan. Ia menekankan pentingnya tetap bekerja sesuai aturan, memberikan yang terbaik, dan membangun komunikasi dengan berbagai pihak.

"Selama kita bekerja sesuai aturan dan terus membangun relasi, ancaman itu bisa dikelola," ujarnya.

Hal senada disampaikan Managing Director Danantara Asset Management, Febriany Eddy. Ia menekankan pentingnya menemukan tujuan atau purpose dalam bekerja, bukan sekadar mengejar jabatan.

Ia bilang, ketika seseorang fokus pada dampak yang dihasilkan bagi masyarakat, tekanan dalam pekerjaan akan terasa lebih ringan dan bermakna.

"Ini bukan soal karier saya, tapi soal dampak yang bisa diberikan," katanya.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menambahkan, personal branding dan kepercayaan diri menjadi faktor penting agar perempuan bisa bertahan dan berkembang di industri yang didominasi laki-laki. Ia juga menekankan pentingnya mentoring, baik formal maupun informal, sebagai cara belajar dan memperluas perspektif.

"Kenali kekuatan diri dan bangun identitas. Itu yang membuat orang lain percaya," ujarnya.

Dari kombinasi peningkatan kapasitas, dukungan sistem, serta kepercayaan diri, perempuan Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga pemain utama dalam perdagangan global.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features