CNBC Insight

Raja Arab Saudi Ini Tewas Ditembak Pangeran, Diduga Pelaku Dihasut AS

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
28 March 2026 09:45
A Saudi Arabian flag flies on Saudi Arabia's consulate in Istanbul on October 4, 2018. - Jamal Khashoggi, a veteran Saudi journalist who has been critical towards the Saudi government has gone missing after visiting the kingdom's consulate in Istanbul on October 2, 2018, the Washington Post reported. (Photo by OZAN KOSE / AFP)
Foto: AFP/OZAN KOSE
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Dugaan keberadaan infiltrasi intel Israel atau Amerika Serikat (AS) di lingkaran kekuasaan negara Arab pernah menghangat di Arab Saudi. Kejadiannya ini terjadi pada 25 Maret 1975, tepat 51 tahun lalu, ketika Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz Al Saud ditembak mati di Istana Raja, Riyadh, oleh keponakannya sendiri, yakni Pangeran Faisal bin Musaid.

Pangeran Musaid menembak mati pamannya pada pukul 10.32 waktu setempat ketika menyambut delegasi Kuwait. Tembakan mengenai kepala hingga membuat sang raja langsung tumbang bersimbah darah. Saat dibawa ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong.

Menurut laporan New York Times (31 Maret 1975), saat terjadi penembakan, muncul dugaan Faisal memiliki kelainan mental alias tidak waras. Namun, dugaan ini dibantah pemerintah yang menyebut dia sehat secara mental. Hanya saja, punya rekam jejak buruk. 

Menurut autobiografi berjudul King Faisal: Personality, Faith and Times (2016), Faisal bin Musaid dikenal nakal dan pernah tinggal di AS. Di sana dia terlibat perdagangan obat terlarang, menggunakan narkotika dan alkohol, serta kerap berkelahi. Meski demikian, setiap kali bermasalah dengan hukum, Kerajaan Saudi selalu melindunginya.

Akibat tindakan ini, Pangeran Musaid dihukum pancung pada 8 Juni 1975. Sayang, kematiannya tidak membuka motif pembunuhan karena dirahasiakan pemerintah. Alhasil, berbagai teori konspirasi pun bermunculan. 

Teori konspirasi paling populer adalah dugaan konspirasi Pangeran Musaid dengan AS. Dalam dokumen rahasia yang dirilis pada 2007, Badan Intelijen Amerika (Central Intelligence Agency, CIA) sendiri mengungkap teori ini sebagai salah satu hipotesis kuat penyebab pembunuhan. Menurut CIA, Pangeran Musaid dihasut oleh AS.

"Beberapa mengajukan hipotesis bahwa raja dibunuh atas hasutan Amerika yang tidak puas dengan kebijakannya dalam masalah penyelesaian Timur Dekat dan sikap dingin terhadap Amerika Serikat," ungkap CIA. 

Investigasi Daily News saat itu juga mengungkap hal sama. Bahwa kematian Raja Faisal terkait konspirasi AS dan rumor keterlibatan intelijen Israel. Semasa berkuasa, Raja Faisal jadi figur yang aktif menentang Israel dan AS. Dia tak senang atas sikap kedua negara itu terhadap Palestina. Dia ingin Palestina merdeka sepenuhnya. 

Salah satu sikap pentingnya adalah ketika Arab Saudi dan negara Arab pengekspor minyak lain melakukan embargo minyak terhadap Israel dan negara Barat pendukungnya pada 1973. Akibatnya, AS dan negara Barat lumpuh, mobil tak bisa beroperasi, dan industri terhenti selama berbulan-bulan.

Menurut Rachel Bronson dalam Thicker Than Oil: America's Uneasy Partnership with Saudi Arabia (2006), kondisi ini membuat Raja Faisal menjadi target pembunuhan oleh Musaid. Terlebih, muncul fakta baru kalau kekasih Musaid, Christine Surma, diduga kuat sebagai aset Mossad.

Selain itu, muncul pula dugaan lain seperti balas dendam atas kematian saudara laki-lakinya pada 1966. Meski begitu, hipotesis ini sulit dibuktikan sebab pemerintah memilih merahasiakan motif pembunuhan.  

(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google
Next Article TNI Pernah Sukses Gagalkan Operasi Rahasia CIA di Indonesia


Most Popular
Features