Pejabat Tinggi AS Dipenjara Usai Ketahuan Jual Rudal ke Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah citra permusuhan keras antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sejarah justru mencatat ironi besar. Ternyata di era Presiden Ronald Reagan,Â
Peristiwa ini terjadi dalam skandal Iran-Contra pada pertengahan 1980-an. Di permukaan, Iran dan Barat terlihat berseberangan. Namun di balik layar, jalur komunikasi rahasia tetap dibuka demi kepentingan politik dan ekonomi Washington.
Akar konflik bermula dari Revolusi Iran yang menggulingkan Mohammad Reza Pahlavi dan melahirkan rezim baru di bawah Ruhollah Khomeini. Sejak itu, hubungan AS-Iran memburuk drastis. Ini kemudian diperparah oleh krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran, yang membuat Washington memutus hubungan diplomatik dan menjatuhkan embargo total, termasuk larangan penjualan senjata.
Namun, hubungan mulai bergeser saat Reagan menjabat. AS menghadapi dilema geopolitik, yakni alotnya negosiasi pembebasan sandera warga AS di Lebanon dan ancaman Iran akan pro-komunis. Pada saat bersamaan, Iran membutuhkan senjata untuk bertempur di Perang Iran-Irak (1980-1988).
Di tengah situasi ini, AS-Iran menjadi terbuka dan membuat kebijakan kontroversial, yakni menyetujui perdagangan senjata. AS akan mengirim senjata ke Iran.
"Para pejabat Reagan menghadapi kerumitan dalam merumuskan strategi yang berhasil. Tetapi juga dihadapkan pada warisan yang menyakitkan bagi ingatan nasional," tulis Robert Bussy dalam Reagan and the Iran-Contra Affair (1999: 56).
Akibat tidak bisa berdagang langsung, AS lewat Dewan Keamanan Nasional memanfaatkan Israel sebagai perantara. Pemerintahan Menachem Begin menerima skema ini karena melihat peluang strategisnya sendiri, termasuk memfasilitasi perpindahan warga Yahudi dari Iran. Menurut Alessandra Cecolin dalam Iranian Jews in Israel (2015), emigrasi Yahudi-Iran ke Israel tergolong ilegal, tetapi peluang ini menjadi bagian dari negosiasi informal antara Khomeini dan Begin.
Akhirnya, sejak 1985, Washington awalnya mengirim 500 rudal dan melonjak menjadi ribuan rudal dalam kurang dari enam bulan. Namun dana hasil penjualan, sekitar US$48 juta, tidak masuk ke kas negara. Uang itu justru dialihkan secara rahasia untuk mendukung kelompok Contra di Nikaragua, yang melawan rezim pro-komunis, meski Kongres AS melarangnya.
Skandal ini akhirnya terbongkar pada November 1986. The New York Times (25 November 1986) melaporkan, kasus ini langsung mengguncang AS karena operasi rahasia bertolak belakang dengan kebijakan resmi yang memusuhi Iran. Dalam konferensi pers 19 November 1986, Reagan mengakui adanya operasi yang dicetuskan oleh anak buahnya tersebut.Â
"18 bulan lalu, pemerintahan memulai inisiatif rahasia untuk Republik Islam Iran. Tapi tujuan kami adalah mengakhiri permusuhan, perang, terorisme, dan membebaskan sandera," ujarnya.
Akibat skandal ini Menteri Pertahanan Caspar Weinberger, Ketua Dewan Keamanan Nasional, dan belasan pejabat tinggi negara lain mengundurkan diri dan menjalani hukuman penjara. Namun, Reagan sendiri dinyatakan tidak bersalah dan berhasil menyelesaikan masa jabatannya.
Meski begitu, skandal ini tetap menjadi bukti di politik global, garis antara musuh dan sekutu bisa sangat tipis. Apa yang tampak di depan publik belum tentu mencerminkan kenyataan di balik layar.
(mfa/mfa) Addsource on Google