CNBC Insight

AS "Kiamat" Gegara Iran, BBM Langka-Warga Beralih Pakai Kayu Bakar

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
05 March 2026 02:00
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) langsung mengguncang pasar energi global. Langkah tersebut memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak sekaligus ancaman penurunan pasokan di tengah ketergantungan banyak negara pada jalur strategis itu. 

AS sendiri sebenarnya pernah kena batunya pada 1979 "kiamat" energi memicu kelangkaan bahan bakar di dalam negeri. Warga harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM, bahkan sebagian kembali menggunakan kayu bakar untuk mendinginkan ruangan sebagai alternatif energi.

Delapan Bulan Krisis Minyak

Mundur 46 tahun ke belakang, Iran mengalami perubahan besar dalam sistem pemerintahannya. Kekuasaan monarki di bawah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu dekat AS, tumbang dan digantikan oleh Republik Islam yang dipimpin Ruhollah Khomeini.

Revolusi tersebut diwarnai gelombang demonstrasi besar-besaran yang menolak dominasi Barat serta menuntut perubahan total arah dan tatanan negara. Kekacauan politik lantas berdampak langsung pada sektor energi. Industri minyak Iran lumpuh akibat pemogokan, eksodus tenaga kerja asing yang ketakutan, serta gangguan operasional di kilang-kilang.

Berdasarkan riset "Oil embargo and Energy Crises of 1973 and 1979", produksi yang pada Juli 1978 masih sekitar 5,8 juta barel per hari merosot tajam menjadi hanya sekitar 445.000 barel per hari pada Januari 1979. Penurunan drastis ini mengguncang pasokan global dan memicu kepanikan pasar.

Akibatnya, harga minyak dunia melonjak hingga sekitar US$20 per barel dan memicu gelombang inflasi baru di negara-negara Barat. Negara pengimpor minyak, termasuk AS, dilanda krisis minyak.

Menurut riset "The U.S. Petroleum Crisis of 1979" (1979), di dalam negeri, antrean panjang tampak di hampir seluruh SPBU di berbagai wilayah AS. Banyak pom bensin memasang papan bertuliskan "Sorry, No Gas" atau "No More Gas Today". Warga pun harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Sebenarnya, krisis minyak ini bukan pertama kali melanda AS. Tahun 1973, krisis minyak juga melanda AS usai mendapat embargo oleh negara-negara Arab anggota OPEC karena mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur. 

Namun, krisis 1979 berdampak jauh lebih besar karena berlangsung sekitar delapan bulan. Sejumlah negara bagian menerapkan kebijakan masing-masing. Mulai dari sistem ganjil-genap untuk pembelian bensin hingga pembatasan kecepatan kendaraan guna menghemat energi.

Menurut situs History, Presiden Jimmy Carter bahkan menyebut situasi itu sebagai krisis nasional dan menyerukan masyarakat untuk menekan konsumsi energi. Carter juga mendorong penggunaan energi alternatif, seperti pemasangan panel surya dan pemanfaatan kayu bakar sebagai pengganti minyak di sistem penghangat ruangan. 

Sejak saat itu, sebagian warga AS mengikuti seruan tersebut termasuk beralih menggunakan kayu bakar. Buktinya, menurut situs For Green Heat, angka penjualan tungku kayu dan kayu bakar sebagai pemanas mengalami peningkatan di tahun 1979 dengan nilai jutaan dollar. 

Akhirnya krisis mereda ketika AS mendapat minyak dari negara-negara lain, seperti Venezuela dan Mexico, dan memperoleh sumber minyak baru di Alaska. Berkat kejadian ini, AS menjadi lebih serius memperkuat cadangan strategis energi dan mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Terlebih, usai memutuskan menghentikan total impor minyak dari Iran pada akhir 1979 karena situasi yang kian memburuk. 

Kini, setiap ketegangan di sekitar Selat Hormuz selalu membangkitkan bayang-bayang buruk atas 'kiamat' minyak di AS tahun 1979. 

(mfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Next Article Jet Tempur AS Salah Sasaran, Jatuhkan Bom di Kedubes China


Most Popular
Features