Try Sutrisno, Tentara Zeni yang Jadi Ajudan Presiden Lalu Wapres RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia, Senin (2/3/2026). Try Sutrisno meninggal pada usia 90 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Kepergian Try Sutrisno menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang karier di lingkaran kekuasaan bermula dari ajudan presiden, Panglima ABRI, dan mencapai puncak sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada masa Orde Baru.
Ajudan Presiden Jadi Wapres
Try Sutrisno mengawali kariernya di dunia militer pada 1960 dari kesatuan Zeni dan bertugas melakukan rekonstruksi/destruksi prasarana militer di medan perang. Awalnya dia ditugaskan di Palembang, lalu dipindahkan ke Jakarta, Bandung, dan Jawa Timur.
Semua itu dilakukan sampai tahun 1974 sebelum ditugaskan menjadi ajudan Presiden Soeharto. Dalam buku autobiografi Soeharto berjudul Pak Harto: The Untold Stories (2011), Try Sutrisno mengungkap tak menduga bakal menjadi ajudan presiden. Sebab, dia lama berkarier di lapangan.
Namun, hal yang tidak terduga itu belakangan menjadi berkah. Selama empat tahun bertugas, jabatan ajudan presiden ternyata dianggap sebagai batu lompatan. Akibat terus mendampingi presiden, namanya pun populer.
Setelahnya, dikutip dari buku memoar berjudul 5 Tahun Masa Bakti Bapak Try Sutrisno (1998), Try dipercaya oleh pimpinan ABRI untuk memangku jabatan Kepala Staf Kodam Udayana. Lalu dipindahkan dan pecah bintang karena bertugas sebagai Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979. Tiga tahun kemudian, dia pun menjabat Panglima Kodam Jakarta Raya.
Posisinya di jajaran petinggi ABRI diemban ketika menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dan beberapa bulan kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Menurut pengamat politik Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), keputusan pengangkatan Try menjadi orang nomor satu di AD jadi bukti kalau Soeharto sangat mempercayainya, sekalipun latar belakangnya dianggap tidak sesuai karena berasal dari korps Zeni. Sebab, dengan menjadikan Try sebagai KSAD, Soeharto bisa mendapat dukungan loyalitas AD.
Namun, KSAD bukan puncak karier militer pria kelahiran 1935 ini. Pada 1988, Soeharto mengangkatnya sebagai Panglima ABRI. Ketika mengemban jabatan baru, muncul desas-desus dia bakal menjadi Wakil Presiden. Namun, desas-desus itu tak benar. Sebab pada 1988, Soeharto lebih memilih Sudharmono, bukan Try Sutrisno.
Barulah pada 1993, Try Sutrisno diangkat menjadi Wakil Presiden ke-6 RI. Dia mengalahkan nama populer, yaitu Menteri Riset B.J Habibie yang dekat dengan kelompok Islam. Menurut Salim Said, keputusan Soeharto menjadikan Try sebagai Wapres ke-6 didasarkan pada kedekatannya yang terbangun sejak lama.
Soeharto menganggap Try sangat loyal karena sudah kenal sejak dari ajudan. Lalu, dia juga hidup sederhana dan tidak punya beban masa lalu. Selain itu, menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern (2004), pengangkatan Try Sutrisno juga didorong oleh lingkaran orang dekat Soeharto.
Mereka memandang Try sebagai figur suksesor potensial apabila Soeharto wafat. Pada saat itu, usia Soeharto dinilai sudah terlalu lanjut, sementara Try dianggap memiliki kapasitas dan legitimasi untuk menjaga kesinambungan roda kepemimpinan nasional.
Ketika menjadi Wapres, Try banyak mengurusi pengawasan pembangunan nasional. Jabatan ini diemban sampai 1998. Posisinya pun digantikan oleh B.J Habibie.
(mfa/mfa) Addsource on Google