CNBC Insight

Diserang AS, Kapal Selam 'Rusia' Bersiap Luncurkan Rudal Nuklir

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
07 February 2026 08:45
Presiden Rusia Vladimir Putin meresmikan dua kapal selam nuklir terbaru buatan negaranya. Kapal selam itu bernama Krasnoyarsk dan Kaisar Alexander III.
Foto: Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin via Reuters
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketiadaan perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia sejak Kamis (5/2/2026) membuat eskalasi konflik nuklir berpotensi meningkat. Sebab, sejarah membuktikan tidak adanya perjanjian pengendalian membuat dunia nyaris kiamat. 

Sejarah menunjukkan, ketiadaan perjanjian pengendalian senjata nuklir pernah membuat dunia nyaris kiamat. Contohnya, terjadi pada 1962 saat dunia nyaris hancur ketika kapal selam nuklir Uni Soviet (Kini Rusia) diserang Angkatan Laut AS di perairan Kuba yang membuat Moskow hampir meluncurkan serangan nuklir balasan. 

Bagaimana kisahnya?

Pada 1962, dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar, AS dan Uni Soviet, terlibat dalam ketegangan tertinggi sepanjang sejarah. Krisis bermula ketika Uni Soviet diketahui menempatkan rudal nuklir di Kuba, yang membuat wilayah AS berada dalam jangkauan serangan langsung hanya dalam hitungan menit.

Soviet menyatakan langkah tersebut sebagai respons atas kebijakan AS yang lebih dulu menempatkan senjata nuklir di Turki, yang dinilai mengancam keamanan Soviet. Dari sini, ketegangan meningkat cepat.

AS membalas dengan melakukan blokade laut terhadap Kuba untuk mencegah masuknya kapal militer Soviet, sekaligus menaikkan status militernya ke siaga perang tertinggi. Ribuan tentara, kapal perang, dan jet tempur siap menyerbu. Hanya tinggal menunggu perintah Presiden John F. Kennedy.

Sampai akhirnya, puncak krisis terjadi pada malam 27 Oktober 1962. Di tengah blokade laut, Angkatan Laut AS mendeteksi sebuah kapal selam milik Uni Soviet, B-59, yang bergerak secara diam-diam di perairan sekitar Kuba.

Pasukan AS berupaya memaksa kapal selam tersebut naik ke permukaan dengan berbagai cara, termasuk menjatuhkan bom latihan di sekitar posisinya. Mereka tidak mengetahui kalau kapal selam itu sesungguhnya membawa rudal nuklir. 

"Bom-bom itu dijatuhkan secara berulang-ulang. Sebenarnya tidak berbahaya," ungkap Theodore Voorhes dalam riset "The Cuban Missile Crisis at Sea".

Di kedalaman, awak kapal selam tidak mengetahui bahwa ledakan tersebut hanya bersifat peringatan. Kapten kapal selam, Valentin Savitsky, yang berada dalam tekanan ekstrem dan tanpa komunikasi dengan Moskow, menganggap ledakan itu sebagai tanda perang telah dimulai. Secara teori, dia bisa langsung meluncurkan senjata nuklir sebagai respons balasan.

Namun, untuk peluncuran itu, Valentin harus menjalankan prosedur, yakni persetujuan mutlak dua perwira tinggi lain. Di tengah situasi tegang dan penuh emosi, Savitsky dan satu perwira menyetujui peluncuran. Namun, salah satu perwira lain, yakni Vasily Arkhipov, melakukan veto dan menolak memberikan persetujuan. 

Dia menilai keputusan perang tidak boleh diambil berdasarkan asumsi tanpa perintah langsung dari Moskow. Keputusan itu membuat tombol nuklir yang sudah dipegang kembali ditutup rapat. 

"Dengan berkata tidak, Arkhipov sudah menyelematkan dunia," ungkap sejarawan Martin J. Sherwin dalam Gambling with Armageddon: Nuclear Roulette from Hiroshima to the Cuban Missile Crisis (2020).

Jika Arkhipov setuju, maka rudal nuklir meluncur dari kapal selam ke daratan AS. Sebagai respons, AS akan melakukan serangan balasan ke tanah Soviet dan dari sini negara komunis itu juga akan meluncurkan rudal dari negaranya. Perang nuklir pun terjadi. Untungnya, Arkhipov melakukan penolakan. 

Akhirnya, kapal selam B-59 muncul ke permukaan. Krisis pun mereda. Setelah negosiasi intens, Uni Soviet menarik rudalnya dari Kuba. Sementara AS secara diam-diam juga menarik senjata nuklirnya dari Turki. 

Berkat kejadian inilah, kedua negara sepakat membangun jalur komunikasi khusus, sekaligus melakukan perjanjian pengendalian senjata nuklir. Namun kini, AS dan Rusia sebagai penerus kekuatan nuklir era Soviet tidak lagi terikat dalam perjanjian pengendalian senjata nuklir.

(mfa/luc)


Most Popular
Features