Beda! Anak Pejabat RI Ini Pilih Berjuang Tanpa Nebeng Nama Ortu

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
30 August 2025 20:15
Pejabat Hindia Belanda Berpose Bersama Karyawan ACW di Lokasi PT. Pindad Saat Ini (Tangkapan Layar via website Pindad)
Foto: Ilustrasi. (Tangkapan Layar via website Pindad)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nama besar orang tua kerap digunakan untuk mendaki tangga kesuksesan. Namun hal berbeda dilakukan Soesalit Djojoadhiningrat.

Soesalit merupakan anak dari RA Kartini dan ayahnya yang juga Bupati Rembang, Raden Mas Adipati Ario Djojodiningrat. Wardiman Djojonegoro dalam Kartini (2024) mengatakan Soesalit sebenarnya berhak menggantikan ayahnya sebagai bupati.

Namun dia menolak dan memilih masuk tentara pada tahun 1943. Dilatih oleh tentara Jepang, kemudian dia tergabung dalam tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Saat Indonesia merdeka, Soesalit menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyar RI dan karirnya moncer. Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979), mengatakan Soesalit terlibat dalam sejumlah pertempuran melawan Belanda.

Hal inilah yang membuatnya cepat naik pangkat dan namanya begitu dikenal. Puncak kesuksesannya adalah saat 1946, dia menjadi Panglima Divisi II Diponegoro yang bertugas menjaga ibu kota negara di Yogyakarta.

Bukan hanya itu, dia pernah memegang jabatan sipil seperti penasehat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada 1953.

Soesalit tak pernah mengumbar nama orang tuanya, bahkan sang ibu Kartini. Ini juga diungkap Jenderal Nasution dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979), mengatakan Soesalit memilih hidup melarat sebagai veteran dan hidup melarat.

Padahal dia adalah satu-satunya putra Kartini. Dia bisa hidup tak melarat dan orang bisa menaruh banyak simpati pada dirinya.

Namun dia memilih hidup tanpa menyebutkan dirinya sebagai keturunan Kartini, hingga tetap melarat sampai meninggal pada 17 Maret 1962.


(mkh/mkh) Next Article Tragis! Keluarga Kartini Hidup Sengsara-Tak Diakui Negeri Sendiri

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular